Jeritan Anak Jalanan
Aku terbangun dari kotor dan dinginnya bawah jembatan ini. Begitu juga dari
suara-suara kendaraan bermotor yang silih berganti. Tapi ini sudah biasa bagiku.
Ketika kubuka mata ini, pikiran dan perutku seakan mengerti. Saatnya kucari
sesuap nasi. Menelusuri rimba rayanya kota, tertatih pada rintih kaki dan berpeluh
pada guritan derita.
Kakiku terus melangkah, sementara perutku pun terus mendendangkan lagu
keroncongnya. Kutilik dibalik rumah mewah itu. Bahagia sekali, mereka sarapan
pagi bersama dengan makanan telah tersaji diatas meja. Sementara aku?? Berapa
kilometer lagi harus kutempuh?? “Aku tak seberuntung mereka”.
Di teriknya matahari yang seakan ingin membakar kulitku, aku harus mengais
rejeki. Di jalanan, di perempatan, di warung-warung, tak peduli betapa teriknya
siang ini. Dengan lagu kudendangkan juga dengan tangan menengadah. Pengemis,
pengamen, mungkin itu kata yang lebih tepat. Anak jalanan, anak terlantar, apapun
kata mereka aku tak peduli. Buat aku yang terpenting adalah bagaimana
menyambung nyawaku.
Kutengok di balik gedung itu. Nyamannya mereka, tidak kepanasan, duduk disana,
mendapatkan pendidikan, mendapatkan teman pula. Inginnya aku bersekolah. Tapi
uang dari mana? Bagaimana bisa? Kalaupun telah ada sekolah gratis, belum tentu
yang lainnya gratis. Kalaupun aku sekolah, bagaimana aku bisa mencari sesuap
nasi? Sekali lagi aku harus berkata, “Aku tak seberuntung mereka”.
Lalu ketika senja tiba. Kutahu hari kan gelap. Gelap pula harapanku, ku tahu malam
ini aku harus tidur di emperan toko, di kolong langit, bahkan di kolong jembatan.
Tanpa peduli apa yang akan terjadi nanti. Hujankah? Hemmm… hujan? Dinginnya
malam adalah selimutku. Kardus bekas adalah kasurku. Tak ada bantal dan guling
untukku.
Selasa, 20 Desember 2011
Senin, 19 Desember 2011
HEBAT MANA ANDA ATAU ANAK JALANAN..???
Pernahkan terlintas di pikiran Anda, Lebih hebat manakah kita dengan anak jalanan / pengamen? Apakah kita yang lebih hebat? Bagi Anda yang menjawab demikian Anda SALAH BESAR …tahukah apa yang membuat comment kita tersebut salah?Mungkin bila kita melihat orang jalanan / pengamen yang selalu yang ada di benak kita adalah anak kita yang kotor, kumuh, dan nakal. Memang semua itu benar, tapi ada suatu hal yang lebih berharga di balik semua itu. Anak jalanan /pengamen mempunyai suatu keistimewaan yang tidak kita miliki. Apa keistimewaannya? Tiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk 1 tujuan yaitu mencari uang untuk hidup 1 hari. walaupun yang didapat sedikit namun mereka tetap bersyukur dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya. Namun bagaimana dengan kita? Kita tidak tiap hari merasakan kekejaman dunia, hanya pada waktu tertentu saja namun lebih parahnya kita selalu gampang berputus asa bila mengalami kegagalan dan yang lebih parahnya lagi kita tidak pernah mensyukuri apa yang kita punyai saat ini. Sekarang lebih hebat manakah ?kita atu anak jalanan?
LIRIK LAGU ANAK JALANNAN
ANAK JALANAN
selalu dalam kesepian
anak jalanan korban kemunafikan
selalu kesepian di keramaian
tiada tempat untuk mengadu
tempat mencurahkan isi kalbu
cinta kasih dari ayah dan ibu
hanyalah peri yang palsu
anak perawan kembang metropolitan
selalu resah dalam penantian
anak perawan korban keadaan
selalu menanti dalam keresahan
tiada restu untuk bertemu
restu menjalin hidup bersatu
kasih sayang dari ayah dan bunda
hanyalah adab semata
anak gedongan lambang metropolitan
menuntut hidup alam kedamaian
anak gedongan korban kesibukan
hidup gelisah dalam keramaian
tiada waktu untuk bertemu
waktu berkasihan dan mengadu
karena orang tua metropolitan
hanyalah budak kesibukan
Sabtu, 17 Desember 2011
Langganan:
Komentar (Atom)






